

Pernah nggak kamu lihat bule (orang asing, khususnya dari negara Barat) terlihat kesulitan atau bahkan nggak bisa jongkok seperti orang Indonesia? Di sini, jongkok itu hal biasa—mulai dari duduk santai, di warung, di WC jongkok, atau sekadar istirahat. Tapi bagi banyak bule, posisi jongkok penuh bisa jadi tantangan besar. Kenapa bisa begitu?
Ternyata, ada penjelasan ilmiah dan budaya di balik fenomena ini. Faktor seperti perbedaan struktur anatomi tubuh, gaya hidup, dan kebiasaan sejak kecil sangat memengaruhi kemampuan seseorang untuk jongkok dengan nyaman. Di negara-negara Barat, duduk di kursi sudah jadi kebiasaan sehari-hari, sedangkan jongkok hampir nggak pernah dilakukan.
Selain itu, perbedaan fleksibilitas otot, panjang tendon, dan postur tubuh juga jadi penyebab kenapa banyak bule merasa jongkok itu aneh atau bahkan menyakitkan. Sementara itu, di banyak negara Asia, jongkok justru jadi posisi “default” yang diajarkan sejak kecil—jadi otot dan sendinya lebih terbiasa.
Nah, di artikel ini kita bakal bahas kenapa bule rata-rata nggak bisa jongkok, mulai dari sisi anatomi, budaya, hingga fakta menarik lainnya. Yuk, simak dan temukan alasannya!
Jika kamu sering melihat wisatawan asing alias bule di Indonesia atau negara Asia lainnya, kamu mungkin pernah menyadari satu hal unik: bule jarang atau bahkan tidak bisa jongkok. Sementara bagi banyak orang Indonesia, jongkok adalah posisi yang sangat umum — entah saat menunggu, di toilet tradisional, atau saat bersantai.
Lalu, muncul pertanyaan menarik: kenapa bule tidak bisa jongkok? Apakah tubuh mereka memang berbeda? Atau karena gaya hidup yang membuat kemampuan ini menghilang?
Yuk, kita kupas tuntas dari sisi anatomi tubuh, budaya, hingga kebiasaan hidup, agar kamu bisa memahami fenomena ini secara menyeluruh.
Sebelum lebih jauh, kita perlu pahami dulu apa yang dimaksud dengan jongkok. Dalam istilah ilmiah, posisi jongkok disebut juga dengan deep squat — yaitu posisi di mana tubuh diturunkan ke bawah hingga bokong berada mendekati tumit, dengan kaki menyentuh lantai sepenuhnya (bukan jinjit), dan punggung tetap tegak atau sedikit condong ke depan.
Posisi jongkok ini:
Bagi banyak orang Asia atau Afrika, posisi ini sangat alami. Namun, banyak orang Barat (bule) kesulitan bahkan hanya untuk jongkok selama beberapa detik. Mengapa demikian?
Jongkok adalah postur di mana seseorang menekuk lutut dan pinggul sambil tetap berdiri, dengan berat badan bertumpu pada kaki. Gerakan ini digunakan dalam olahraga seperti angkat beban, dalam kegiatan sehari-hari seperti buang air besar menggunakan toilet jongkok, dan bahkan dalam budaya untuk menunjukkan rasa hormat, seperti berjalan jongkok dalam budaya Jawa.
Salah satu alasan utama kenapa bule tidak bisa jongkok adalah faktor budaya. Di banyak negara Barat, seperti Eropa dan Amerika Utara, jongkok bukanlah kebiasaan sehari-hari. Mereka tumbuh dalam budaya yang selalu menggunakan:
Sementara di negara-negara Asia (termasuk Indonesia), jongkok adalah bagian dari aktivitas sehari-hari, seperti:
Akibatnya, otot dan sendi tubuh orang Asia terlatih sejak kecil untuk melakukan posisi jongkok secara alami. Sebaliknya, orang Barat tidak memiliki latihan alami ini, sehingga kemampuan untuk jongkok bisa menurun atau hilang sama sekali.
Secara umum, tidak ada perbedaan struktural besar antara tubuh bule dan non-bule yang membuat mereka tidak bisa jongkok. Namun, karena gaya hidup yang berbeda, terjadi perbedaan pada fleksibilitas dan mobilitas sendi, terutama:
Artinya, ini bukan karena bule tidak bisa secara genetik, tapi karena tubuh mereka tidak dilatih untuk posisi tersebut sejak kecil.
Percaya atau tidak, jenis toilet sangat berpengaruh pada kemampuan jongkok. Di negara Barat, hampir seluruhnya menggunakan toilet duduk. Sementara di banyak negara Asia, terutama daerah pedesaan, toilet jongkok masih dominan.
Orang Indonesia sejak kecil sudah terbiasa jongkok di toilet. Tanpa disadari, ini adalah “latihan harian” yang menjaga fleksibilitas tubuh.
Bule tidak pernah mengalami ini. Bahkan, bagi mereka, jongkok dianggap “tidak lazim” dan seringkali dikaitkan dengan ketidaknyamanan atau bahkan kotor. Ini menunjukkan bahwa selain secara fisik, faktor psikologis dan budaya juga memainkan peran.
Sebagian besar orang Barat lebih banyak duduk di kursi selama berjam-jam — di kantor, di rumah, di mobil, bahkan saat bersantai. Gaya hidup ini mengurangi kesempatan bagi tubuh untuk melakukan gerakan yang memperkuat dan menjaga mobilitas otot, terutama otot lutut dan pinggul.
Hal ini membuat:
Sebaliknya, di negara-negara dengan kebiasaan fisik lebih aktif atau postur tubuh yang fleksibel sejak kecil, kemampuan jongkok tetap terjaga bahkan hingga usia tua.
Menariknya, banyak pelatih kebugaran dan fisioterapis Barat mulai menyadari bahwa jongkok adalah posisi alami manusia. Bahkan, bayi di seluruh dunia bisa jongkok dengan sempurna tanpa latihan.
Masalahnya muncul ketika kebiasaan duduk di kursi mengambil alih seluruh kehidupan kita. Di negara Barat, duduk di kursi sudah jadi norma sejak TK atau bahkan lebih awal. Akibatnya, mobilitas tubuh secara fungsional ikut menurun.
Beberapa ahli menyebutkan bahwa kemampuan jongkok adalah indikator kesehatan sendi dan mobilitas tubuh. Kehilangan kemampuan jongkok bisa menjadi tanda bahwa otot dan sendi sudah tidak berfungsi optimal.
Penting untuk dipahami bahwa bule bukan tidak bisa jongkok secara permanen, mereka hanya perlu melatihnya kembali. Banyak orang Barat yang mulai mempelajari yoga, squat mobility, dan latihan pergelangan kaki untuk mengembalikan kemampuan jongkok mereka.
Latihan-latihan seperti:
Semua itu bisa membantu siapa pun — bule atau bukan — untuk kembali bisa jongkok secara nyaman.
Di luar budaya dan kebiasaan, ternyata jongkok memiliki manfaat kesehatan yang cukup banyak, antara lain:
Banyak pelatih kebugaran menyarankan untuk mengembalikan kebiasaan jongkok secara perlahan, terutama bagi orang yang sudah lama kehilangan kemampuan ini.
Jadi, kenapa bule tidak bisa jongkok? Jawabannya bukan karena mereka beda secara biologis, tapi karena:
Namun, ini bukan masalah permanen. Dengan latihan dan kesadaran akan pentingnya mobilitas, siapa pun bisa belajar jongkok kembali — termasuk bule.
Sebagai orang Indonesia (atau Asia secara umum), kita patut bersyukur karena budaya dan kebiasaan kita masih melibatkan banyak gerakan alami, termasuk jongkok. Hal ini secara tidak langsung menjaga kesehatan sendi, otot, dan mobilitas tubuh kita hingga tua.
Namun, jangan terlena juga. Gaya hidup modern juga membuat banyak anak muda sekarang mulai kehilangan kemampuan jongkok karena terlalu sering duduk dan kurang bergerak.
Maka dari itu, yuk jaga kemampuan ini dengan tetap aktif, hindari duduk terlalu lama, dan sesekali biasakan jongkok secara alami.
Editor Team DomainJava berperan penting dalam penulisan artikel dibidangnya, seorang ahli dalam bidang write article dengan sangat profesional.