

Dalam penulisan ilmiah dan akademik, sering kali kamu perlu merujuk suatu informasi atau konsep yang diambil dari sumber lain. Tidak jarang kamu ingin mengutip penulis asli yang sudah dikutip oleh seorang penulis lainnya. Situasi ini disebut mengutip sumber kedua atau yang juga dikenal sebagai kutipan sekunder.
Mengutip sumber kedua bukanlah praktik yang disarankan karena kamu tidak dapat memverifikasi konteks asli. Situasi ini sebaiknya hanya digunakan bila sumber asli tidak dapat diakses. Kini, mari kita pelajari bagaimana cara yang benar dalam menciptakan sebuah kutipan sekunder.
Berikut adalah langkah-langkah yang perlu diikuti:
Pertama, identifikasi informasi atau ide yang ingin kamu kutip ini berasal dari penulis mana. Hal ini penting karena kita harus memberi kredit kepada penulis asli.
Kedua, kamu harus mengkredit penulis yang telah melestarikan informasi tersebut dan telah membuatnya dapat diakses oleh kamu. Penulis ini tidak tak akan menjadi sumber utamamu, namun ia masih layak mendapatkan kredit atas pekerjaan mereka.
Format pengutipan bisa berbeda tergantung pada gaya penulisan yang kamu gunakan (APA, MLA, Chicago, dll). Contohnya dalam format APA:
Akhirnya, pastikan bahwa kutipan tersebut akurat dan tidak bagi-bagi ide sumber asli atau penulis kedua. Selalu periksa grammar dan format pengutipan kamu.
Berikut adalah contoh bagaimana kutipan sekunder di dalam teks dan di daftar rujukan, dengan format APA:
Mengutip kutipan yang dikutip orang lain atau sumber kedua memerlukan kehati-hatian dan keakuratan. Selalu berusaha untuk mencari sumber asli sebelum beralih ke kutipan sekunder.
Jadi, jawabannya apa? Mengutip sumber kedua sebaiknya hanya dilakukan jika sumber asli tidak tersedia, dan penting bagi kita untuk mengkredit kedua penulis dengan benar dan akurat.
Editor Team DomainJava berperan penting dalam penulisan artikel dibidangnya, seorang ahli dalam bidang write article dengan sangat profesional.